Mantan Bos Kadokawa Dihukum Kasus Suap Olimpiade Tokyo

Penjara dan Masa Percobaan untuk Mantan Ketua Kadokawa Corporation

Pengadilan Distrik Tokyo, pada hari Kamis (22/1/2026), menjatuhkan vonis bersalah terhadap Tsuguhiko Kadokawa (82), mantan ketua perusahaan penerbitan besar Jepang, Kadokawa Corporation, dalam kasus korupsi yang berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo. Hakim memutuskan hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan dengan masa percobaan selama 4 tahun. Hukuman ini lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa yang menuntut hukuman tiga tahun penjara.

Kadokawa dinyatakan bersalah karena terlibat dalam praktik penyuapan terhadap Haruyuki Takahashi, mantan anggota dewan panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo. Dalam putusannya, pengadilan menolak seluruh pembelaan yang diajukan oleh Kadokawa, yang menyatakan dirinya tidak bersalah. Hakim menilai bahwa meskipun ia tidak memiliki jabatan operasional harian, Kadokawa tetap berperan sebagai pemimpin de facto perusahaan dan memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan.

Berdasarkan dakwaan, Kadokawa bekerja sama dengan dua mantan pejabat eksekutif Kadokawa—yang sebelumnya telah divonis bersalah—untuk meminta bantuan Takahashi agar mendukung perusahaan dalam proses pemilihan sponsor Olimpiade. Sebagai imbalannya, antara September 2019 hingga Januari 2021, Kadokawa disebut memberikan suap dengan total nilai sekitar 69 juta yen. Jaksa menyatakan bahwa langkah perusahaan untuk menjadi sponsor Olimpiade sepenuhnya dilakukan atas kehendak Kadokawa.

Meski telah diperingatkan mengenai risiko hukum, ia tetap menyetujui pemberian uang dan menginstruksikan bawahannya untuk menjalin hubungan dengan Takahashi. Di sisi lain, tim kuasa hukum Kadokawa berargumen bahwa kliennya tidak memiliki kewenangan langsung dalam keputusan sponsor dan tidak menerima laporan lanjutan setelah pembahasan risiko hukum di internal perusahaan. Namun, pengadilan menilai kesaksian para mantan eksekutif cukup kuat untuk membuktikan keterlibatan langsung Kadokawa dalam praktik tersebut.

Dalam sidang pada September 2025, Kadokawa sempat membantah seluruh tuduhan. “Saya sama sekali tidak merasa melakukan perbuatan ini. Saya tidak bersalah,” ujarnya saat itu.

Masih Ajukan Gugatan terhadap Negara

Selain perkara pidana, Kadokawa juga mengajukan gugatan perdata terhadap pemerintah Jepang senilai 220 juta yen. Gugatan tersebut diajukan ke Pengadilan Distrik Tokyo pada Juni 2024. Ia mengklaim mengalami penderitaan fisik dan mental akibat penahanan panjang yang dijalaninya setelah menolak dakwaan jaksa.

Bagian dari Skandal Besar Olimpiade Tokyo

Kasus Kadokawa menjadi bagian dari rangkaian besar skandal korupsi yang mencoreng penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo. Sejumlah tokoh bisnis dan pejabat tinggi Jepang sebelumnya juga telah terseret dan dijatuhi hukuman dalam perkara serupa. Skandal ini memicu kritik luas terhadap tata kelola Olimpiade Tokyo, khususnya dalam proses pemilihan sponsor dan hubungan antara dunia usaha dengan panitia penyelenggara.

Penutup

Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan pengawasan dalam penyelenggaraan acara internasional seperti Olimpiade. Kasus Kadokawa tidak hanya menjadi pelajaran bagi perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga bagi pemerintah dan lembaga penyelenggara dalam menjaga integritas dan kepercayaan publik. Selain itu, hal ini juga mengingatkan kita akan pentingnya sistem hukum yang kuat dan independen dalam menangani kasus-kasus korupsi yang bisa merusak reputasi sebuah negara.

Post a Comment Blogger

 
Top