
Isu Kepindahan RMS ke PSI dan Dampaknya terhadap Peta Politik Sulsel
Isu kepindahan Ketua DPW Partai NasDem Sulawesi Selatan, Rusdi Masse (RMS), ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi topik yang menarik perhatian banyak pihak. Menurut analisis dari berbagai pengamat politik, isu ini memiliki potensi besar untuk mengubah dinamika politik di wilayah Sulawesi Selatan.
Pengalaman dan Kekuatan Politik RMS
Rusdi Masse dikenal sebagai tokoh dengan insting politik yang kuat serta mesin politik yang solid dan militan hingga ke tingkat bawah. Keberadaannya tidak hanya sebagai ketua partai, tetapi juga sebagai simbol keberhasilan Partai NasDem di Sulawesi Selatan. Hal ini membuat posisi RMS sangat strategis dalam skema politik daerah.
Menurut Direktur Celebes Research Center (CRC), Saiful Bahri, migrasi politik tokoh seperti RMS adalah fenomena yang lumrah dalam sistem multipartai di Indonesia. Namun, dalam konteks Sulsel, kepindahan RMS tidak bisa dipandang sebagai peristiwa biasa. “Posisi RMS bukan sekadar ketua partai, melainkan simbol keberhasilan NasDem di Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Dampak Elektoral dan Politik
Jika isu kepindahan RMS benar-benar terwujud, dampaknya akan terasa signifikan secara elektoral. Saiful Bahri menyebut bahwa ini bisa menjadi “gempa” bagi NasDem sendiri, sementara bagi partai yang dituju RMS, hal ini bisa menjadi “durian runtuh”.
Selain itu, ia menyoroti kuatnya politik figur di Sulsel. Loyaltas pemilih dan kader di sejumlah daerah basis RMS lebih banyak tertuju pada sosok, bukan pada partai. Di Sidrap, Pinrang, sampai Ajatappareng, loyalitas masyarakat lebih kepada figur RMS, bukan pada logo partai. Ini yang harus benar-benar diantisipasi NasDem jika RMS benar-benar pergi.
Ujian bagi Sistem Kaderisasi NasDem
Saiful Bahri juga menilai isu kepindahan RMS sekaligus menjadi tantangan bagi kader-kader muda NasDem. Utamanya yang saat ini menduduki posisi strategis, termasuk Ketua DPRD Sulsel, Andi Rahmatika Dewi (Cicu). Baginya, ini ujian sesungguhnya bagi politisi muda NasDem. Selama ini banyak yang menikmati efek ekor jas tokoh senior. Sekarang mereka harus membuktikan daya tahan politiknya sendiri, tanpa bergantung pada komando dan logistik RMS.
Tantangan untuk NasDem
NasDem kini berada pada fase ujian serius terkait jargon restorasi dan sistem kaderisasi partai. Jika betul RMS pindah, NasDem harus membuktikan bahwa sistem partainya berjalan. “Bahwa NasDem tidak bergantung pada satu orang. Tapi faktanya, praktik politik kita di daerah masih sangat bertumpu pada ketokohan,” ujar Saiful lagi.
Terkait kemungkinan eksodus kader di daerah, Saiful mengingatkan, kursi legislatif memang tidak bisa serta-merta ikut pindah partai karena terikat mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW). Namun, secara politik, loyalitas kader di dalam parlemen bisa berubah. “Secara hukum mereka tidak bisa membawa kursi, tapi secara politik arah loyalitasnya bisa bergeser jika konsolidasi partai tidak kuat. Ini bisa membuat NasDem pincang di legislatif,” katanya.
Langkah yang Harus Dilakukan NasDem
Saiful Bahri menegaskan bahwa NasDem perlu bergerak cepat secara organisasi untuk meredam dampak yang mungkin timbul. “Yang harus dilakukan NasDem adalah audit internal, terutama soal loyalitas infrastruktur di daerah,” pesanannya.
“Jangan merasa aman di atas, padahal di bawah sudah kosong. Kepastian kepemimpinan di Sulsel itu kunci,” pungkas Saiful Bahri.
Post a Comment Blogger Facebook