
Kekhawatiran Global di Forum Ekonomi Dunia 2026
Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2026 yang berlangsung di Davos, Swiss, menjadi ajang diskusi penting bagi para pemimpin dunia. Namun, dalam perhelatan ini, ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa semakin terasa. Isu-isu seperti ancaman kecerdasan buatan (AI), unilateralisme, serta retaknya aliansi transatlantik menjadi fokus utama.
Peringatan tentang Tatanan Global yang Terancam
Para pemimpin dunia menyampaikan peringatan mengenai melemahnya tatanan global berbasis aturan. Mereka khawatir bahwa negara-negara besar cenderung lebih memilih pendekatan unilateral daripada kolaborasi internasional. Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi salah satu tokoh yang paling sering disebut dalam diskusi ini. Ia menyoroti pergeseran dari multilateralisme menuju dunia tanpa aturan, di mana hukum internasional tidak lagi dihormati.
"Kami lebih memilih penghormatan daripada perundungan, dan supremasi hukum dibandingkan kebrutalan," ujar Macron dalam pidatonya. Peringatan serupa juga disampaikan oleh Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang menyebut dunia tengah berada dalam "sebuah keretakan, bukan transisi." Menurutnya, tatanan global lama tidak akan kembali, dan negara-negara kekuatan menengah harus bertindak bersama agar tidak terpinggirkan dalam rivalitas kekuatan besar.
Ketegangan Antara AS dan Eropa
Kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sorotan utama selama WEF 2026. Meski sempat mengalami kendala penerbangan, Trump tiba di Davos dengan delegasi AS terbesar sepanjang sejarah WEF. Pernyataannya di tengah kekhawatiran global menimbulkan pro dan kontra. Beberapa pemimpin Eropa menyampaikan kritik terhadap sikap Washington, termasuk Gubernur California Gavin Newsom yang secara terbuka mengkritik sikap lunak para pemimpin Eropa terhadap tuntutan AS.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer membela kebijakan tarif sebagai instrumen geopolitik yang sah, sementara Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyerukan agar AS dan Eropa menghindari eskalasi konflik dagang. Ia memperingatkan bahwa pertikaian transatlantik justru akan menguntungkan pihak-pihak yang ingin melemahkan Barat, termasuk Rusia.
Fokus pada Masalah Geopolitik
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengingatkan bahwa perhatian dunia yang teralihkan ke isu Greenland berisiko mengurangi fokus terhadap perang Rusia di Ukraina. Dia menegaskan bahwa Ukraina masih membutuhkan dukungan penuh dari negara-negara Eropa dan sekutu. Hal ini menunjukkan bahwa masalah geopilitik tetap menjadi prioritas utama dalam diskusi WEF 2026.
Isu Kecerdasan Buatan dan Dampaknya terhadap Tenaga Kerja
Di sisi lain, isu kecerdasan buatan (AI) menjadi sorotan utama. CEO BlackRock Larry Fink mengakui bahwa WEF sering dianggap tidak selaras dengan kondisi publik. Ia memperingatkan bahwa AI berpotensi memperparah ketimpangan jika manfaatnya hanya dinikmati oleh pemilik modal dan teknologi.
CEO Palantir Alex Karp memperkirakan AI akan menghilangkan banyak pekerjaan di bidang humaniora dan pekerjaan kantoran, meski membuka peluang besar bagi tenaga kerja dengan keterampilan vokasional. Ia juga menilai Eropa tertinggal dari Amerika Serikat dan China dalam adopsi teknologi AI.
WEF 2026 sebagai Panggung Utama Perdebatan Global
WEF 2026 kembali menegaskan bahwa forum ekonomi global tersebut kini tak hanya menjadi arena diskusi pertumbuhan dan inovasi, tetapi juga panggung utama perdebatan geopolitik, keamanan, dan masa depan dunia kerja. Diskusi-diskusi yang terjadi mencerminkan tantangan-tantangan yang dihadapi dunia saat ini, serta kebutuhan untuk mencari solusi bersama.
Post a Comment Blogger Facebook