JAKARTA,

Ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menguasai Greenland, wilayah yang berada di bawah Denmark namun memiliki pemerintahan sendiri, dinilai bukan sekadar manuver politik atau provokasi diplomatik.

Pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroho menegaskan, langkah tersebut berakar pada kepentingan fundamental AS dalam menjaga dan memaksimalkan kekuatan militer serta ekonomi di tengah persaingan global antarkekuatan besar. Menurut Wibawanto, tekanan yang dilakukan AS saat ini tidak hanya melalui instrumen ekonomi dan militer, tetapi juga lewat pendekatan kelembagaan alternatif seperti pembentukan "Board of Peace" yang digagas Trump. Inisiatif tersebut menunjukkan AS tengah mencari cara baru untuk mempertahankan dominasinya dalam sistem internasional.

“Jadi, secara substansial ini tidak bisa dianggap hanya sebagai wacana karena ini mengandung makna substansial yang penting secara global dari perspektif keamanan global dan keamanan nasional, bukan hanya saja dari Amerika, tapi setiap negara berkepentingan di situ,” kata Wibawanto dalam program Kompas Petang Kompas TV, Rabu (21/1/2026).

Neorealisme dan Kepentingan Kekuatan Negara

Untuk menjelaskan mengapa Greenland menjadi incaran, Wibawanto menggunakan perspektif neorealisme dalam hubungan internasional. Dalam pandangan ini, sistem global bersifat anarkistis karena tidak ada otoritas tertinggi di atas negara. “Supaya anarkis itu tetap tertib, harus ada yang namanya kekuatan yang real dalam hal ini terutama militer dan ekonomi. Dan ini harus disertai dengan keseimbangan kekuatan,” ujarnya.

Neorealisme, kata Wibawanto, melihat dinamika konflik global melalui tiga dimensi utama. Pertama, karakter pemimpin, yang meskipun berpengaruh, bukan faktor tunggal. Kedua, persoalan domestik suatu negara yang membentuk arah kebijakan luar negeri. Ketiga, struktur sistem internasional, yang menjadi penyebab paling menentukan lahirnya konflik dan perang.

Dari neorealisme kemudian lahir dua pendekatan utama dalam kebijakan keamanan negara, yakni defensive realism (realisme defensif) dan offensive realism (realisme ofensif). Defensive realism menekankan kecukupan kekuatan untuk bertahan tanpa perlu bersikap agresif. “Yang defensif itu seperti Indonesia misalnya, kita cukup mempunyai kekuatan militer tanpa harus bersikap agresif,” ujar Wibawanto, merujuk pada pendekatan Indonesia. Sebaliknya, offensive realism menempatkan kekuatan sebagai sesuatu yang harus dimaksimalkan. Pendekatan ini umumnya menjadi karakter negara-negara besar atau great powers.

“Tetapi ofensif ini hitungannya beda adalah power maximizing dan biasanya ini menjadi inherent karakter dari great power atau superpower,” kata dia.

Greenland dalam Logika Offensive Realism AS

Dalam konteks inilah, Wibawanto menilai Trump bergerak dengan pendekatan offensive realism. Greenland dipandang memiliki nilai strategis tinggi, baik dari sisi militer, ekonomi, maupun geopolitik, terutama di tengah meningkatnya kompetisi kekuatan besar di kawasan Arktik. “Berarti ofensif ini sekarang yang diselami oleh Presiden Trump, yang di mana dia melihat bahwa jika apa yang terjadi di Greenland ini tidak di-manage, di kemudian hari akan menjadi masalah global security karena terjadi great power competition,” ujarnya.

Dia mengatakan, dari sudut pandang neorealisme, perdamaian global sejatinya hanya bersifat sementara. Masa damai disebut sebagai inter-war period, yakni periode di antara konflik yang menuntut kesiapsiagaan berkelanjutan. Wibawanto menilai kondisi global saat ini telah memasuki fase irregular competition atau persaingan tidak teratur, di mana persaingan kekuatan tidak lagi sepenuhnya mengikuti aturan main yang mapan.

Dalam situasi seperti itu, Amerika Serikat memilih langkah yang lebih agresif dan inisiatif. “Apa yang terjadi sekarang adalah irregular competition. Di mana kompetisi antara power itu tidak ikut aturan main lagi. Nah, sehingga Amerika mengambil langkah yang agresif, yang cukup inisiatif dari Presiden Trump dengan pendekatan offensive realism-nya untuk mengamankan akses penting menuju Arktik,” ucapnya.

Post a Comment Blogger

 
Top